31 Maret 2026

Nuansa Monokrom “Jatuh Cinta Seperti di Film-Film” Mungkin Saja Menjadi Kenyataan dalam Kehidupan Kita yang Berharga Namun Tercemar

[Ditulis oleh Devi Putri Ramadhani. Artikel ini pertama kali ditayangkan di Whiteboard Journal]


Sudahkah kamu menonton Jatuh Cinta Seperti di Film-film? Film ini disajikan dalam nuansa hitam-putih (monokrom), namun menurutku alur ceritanya mengalir dengan indah dan sarat makna.

Tetapi jika kita benar-benar hidup di dunia yang hanya memiliki dua warna: hitam dan putih, apakah kita masih bisa bahagia, jatuh cinta, ataukah kita justru akan berakhir seperti yang orang tua katakan “Sudah jatuh tertimpa tangga”?

Ketika aku masih kecil, setiap kali menonton acara-acara lama di televisi, aku dengan polosnya mengira bahwa orang-orang di masa lalu benar-benar hidup di dunia yang hitam putih. Aku bahkan merasa kasihan pada mereka, mengira bahwa mereka belum pernah melihat langit biru, pepohonan rindang dengan rumput hijau, sinar matahari kuning yang menyapa di setiap pagi, atau tanah cokelat yang subur di bawah kaki mereka. Aku tidak menyadari bahwa hal tersebut hanya efek kamera pada masa itu dan tidak berarti bahwa dunia itu sendiri hanya hitam dan putih.

2025 Akan Segera Berakhir, Apakah Kita Akan Berakhir Hidup di Dunia yang Hitam Putih?

Sampai saat ini, kita masih bisa menikmati keindahan warna-warna dalam hidup sebagai anugerah dari Tuhan. Namun, pernahkah kamu menyadari bahwa belakangan ini langit kita lebih sering berwarna abu-abu daripada biru? Memang hal ini tampak sepele, tapi kita selalu menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa saja, bukan? Mengapa langit kehilangan kecerahannya?

Masalahnya, hal ini disebabkan oleh polutan dari berbagai sumber, seperti transportasi, pengelolaan sampah yang buruk, dan pembangkit listrik tenaga batu bara. Kamu mungkin sudah familiar dengan dua sumber pertama, tapi bagaimana dengan pembangkit listrik tenaga batu bara? Apakah kamu tahu tentang hal itu? 🤔

Indonesia memang dikaruniai sumber daya alam yang melimpah, seperti batu bara, minyak, dan gas yang dimanfaatkan sebagai sumber energi fosil. Selama lebih dari 8 dekade, Indonesia sangat bergantung pada energi fosil, seperti batu bara untuk menerangi rumah-rumah dan menggerakkan sektor ekonomi. Dilansir dari laporan CREA, Indonesia memiliki sekitar 267 unit pembangkit listrik tenaga batu bara yang sebagian besar berlokasi di Pulau Jawa di tahun 2024. Di saat yang sama, Nafas mencatat bahwa Indonesia mengalami lonjakan polusi mencapai 11 kali lipat dari batas yang ditetapkan WHO. Meskipun batu bara diharapkan dapat menjadi sumber energi, biaya penggunaan batu bara melampaui perkiraan. Dalam hal ini, batu bara memicu krisis: krisis udara, kesehatan, ekonomi, dan kehidupan itu sendiri.

Ironisnya, Pemerintah Indonesia masih memilih batu bara daripada beralih secara cepat dan berani ke energi terbarukan. Data IESR menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi energi terbarukan lebih dari 443 GW karena setiap wilayah dan pulau memiliki potensi tersebut. Dengan kebijakan yang mendukung dan memfasilitasi pengembangannya, Indonesia seharusnya bisa menjadi salah satu negara dengan energi terbarukan terkuat di dunia.

Ketika Dunia Mulai Meninggalkan Batu Bara, Kemana Kita Akan Berjalan?

“Bukan hanya kita yang terus melangkah maju, uang kita pun demikian”.

Uang yang kita simpan di bank tanpa kita sadari justru menopang industri batu bara yang berpotensi menghanguskan masa depan kita. Laporan Bersihkan Bankmu menyebutkan bahwa beberapa bank domestik di Indonesia telah menyalurkan dana hingga USD 5,6 miliar atau IDR 93,46 triliun ke sektor batu bara. Bayangkan jika jumlah uang sebesar itu digunakan untuk hal-hal yang benar-benar menyejahterakan hidup kita melalui pendidikan yang lebih baik, penguatan layanan kesehatan, atau hal lain yang menjamin masa depan kita. Sebaliknya, uang kita mengalir ke sektor yang mencemari udara yang kita hirup dan meredupkan dunia yang kita lihat.

Mari Berhenti Sejenak dan Mengupas Masalah Ini Lebih Dalam. Mengapa Bank-Bank Kita Masih Memilih Mendanai Sektor Batu Bara?

Aksi Draw the Line 2025 / credit to 350.id

Bank-bank domestik di Indonesia mulai mengisi kekosongan pembiayaan yang ditinggalkan oleh lembaga keuangan internasional yang mulai menarik diri dari sektor batu bara. Secara global, Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menyebutkan bahwa lebih dari 100 lembaga keuangan telah menarik investasi mereka dari proyek-proyek batu bara. Sebuah studi terbaru dari CERAH juga menemukan bahwa meskipun banyak bank di Indonesia menyadari urgensi krisis iklim, masih terdapat kesenjangan yang jelas antara kesadaran dan tindakan konkret. Keputusan terkait pembiayaan berkelanjutan atau ESG masih didorong oleh kepatuhan yang dipandu oleh peraturan pemerintah daripada mengambil inisiatif internal. Di saat yang sama, bank-bank memiliki alasan yang kuat untuk mengambil pendekatan pragmatis terhadap pembiayaan batu bara. Akibatnya, energi terbarukan masih dipandang sebagai sekadar pelengkap, bukan sumber energi utama, dan pengembangannya tetap terbatas di Indonesia.

“Singkatnya, sektor perbankan Indonesia memiliki potensi untuk mendorong transisi ke energi terbarukan. Namun, tanpa arahan regulasi yang jelas dan insentif pasar yang memadai, potensi ini masih tertahan dan menunggu sinyal untuk bergerak.”

Hal ini dapat dimengerti bahwa transisi dari batu bara tidak akan terjadi dalam semalam. Setiap pergeseran investasi, setiap perubahan kebijakan, dan setiap langkah akuntabilitas memainkan peran penting dalam mempercepat langkah menuju masa depan yang bersih dan berkelanjutan. Perbankan Indonesia memiliki pilihan: apakah akan tetap nyaman, berdiam di bawah naungan sistem ekonomi lama atau turut mewarnai langit biru baru yang didorong oleh energi bersih dan keberanian bersama. Warna-warnanya sudah ada di sana, dan yang kita butuhkan hanyalah kemauan untuk menghidupkannya kembali.

“In a place that makes you change, fall in love again and again”

Seperti yang dikatakan Charli XCX dalam lagunya “Everything is romantic”, mari kita jatuh cinta lagi dan lagi dan kali ini jatuh cinta kepada bumi kita. Mungkin terdengar klise, tapi kita hanya punya satu planet yang bisa kita sebut sebagai rumah dan pemandangan romantis ini tidak akan berakhir ketika kita bisa bernapas lega dan merasa bahagia. Jadi, mari kita manfaatkan sebaik-baiknya dan melindungi planet ini.

Jika kamu ingin mengetahui lebih lanjut tentang keterlibatan bank-bank dan industri batu bara, kamu bisa mengeksplorasinya di sini.