The Monochromes in Jatuh Cinta Seperti di Film-Film Might Just Be a Reality in Our Dear, Polluted Lives

[Written by Devi Putri Ramadhani. This article has published on Whiteboard Journal]
Have you watched Jatuh Cinta Seperti di Film-film? The movie was delivered in black and white concept, yet I personally think that the story was flowing beautifully and deeply meaning.
But if we truly live in a world that only has two colors–black and white–could we still be happy, fall in love, or will we just be like the old man who says “Sudah jatuh tertimpa tangga”?
When I was little, every time I watched old shows on television, I naively thought that people in the past really lived in a world of black and white. I even felt sorry for them, thinking that they had never seen a blue sky, shady trees with green grass, yellow sun rays giving a hug every morning, or the brown living earth beneath their feet. Little did I know, it was only because of cameras back then and it didn’t mean that the world itself was only black and white.
2025 is nearly over — will we end up living in a black-and-white world?

Today, we can still enjoy the abundance of colors in life as a blessing from God. Yet, have you noticed that recently our sky is gray most of the time rather than blue sky? It is indeed a simple thing, but we always take it for granted, aren’t we? Why is the sky losing its vibrancy
The thing is, it is due to pollutants from many sources, such as transportation, waste mismanagement, and coal-fired power plants. You may be familiar with the first two resources, but what about coal-fired power plants? Did you know about it? 🤔
Indonesia memang dikaruniai sumber daya alam yang melimpah, seperti batu bara, minyak, dan gas yang dimanfaatkan sebagai sumber energi fosil. Selama lebih dari 8 dekade, Indonesia sangat bergantung pada energi fosil, seperti batu bara untuk menerangi rumah-rumah dan menggerakkan sektor ekonomi. Dilansir dari laporan CREA, Indonesia memiliki sekitar 267 unit pembangkit listrik tenaga batu bara yang sebagian besar berlokasi di Pulau Jawa di tahun 2024. Di saat yang sama, Nafas mencatat bahwa Indonesia mengalami lonjakan polusi mencapai 11 kali lipat dari batas yang ditetapkan WHO. Meskipun batu bara diharapkan dapat menjadi sumber energi, biaya penggunaan batu bara melampaui perkiraan. Dalam hal ini, batu bara memicu krisis: krisis udara, kesehatan, ekonomi, dan kehidupan itu sendiri.
Ironisnya, Pemerintah Indonesia masih memilih batu bara daripada beralih secara cepat dan berani ke energi terbarukan. Data IESR menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi energi terbarukan lebih dari 443 GW karena setiap wilayah dan pulau memiliki potensi tersebut. Dengan kebijakan yang mendukung dan memfasilitasi pengembangannya, Indonesia seharusnya bisa menjadi salah satu negara dengan energi terbarukan terkuat di dunia.
Ketika Dunia Mulai Meninggalkan Batu Bara, Kemana Kita Akan Berjalan?
“Bukan hanya kita yang terus melangkah maju, uang kita pun demikian”.
Uang yang kita simpan di bank tanpa kita sadari justru menopang industri batu bara yang berpotensi menghanguskan masa depan kita. Laporan Bersihkan Bankmu menyebutkan bahwa beberapa bank domestik di Indonesia telah menyalurkan dana hingga USD 5,6 miliar atau IDR 93,46 triliun ke sektor batu bara. Bayangkan jika jumlah uang sebesar itu digunakan untuk hal-hal yang benar-benar menyejahterakan hidup kita melalui pendidikan yang lebih baik, penguatan layanan kesehatan, atau hal lain yang menjamin masa depan kita. Sebaliknya, uang kita mengalir ke sektor yang mencemari udara yang kita hirup dan meredupkan dunia yang kita lihat.
Mari Berhenti Sejenak dan Mengupas Masalah Ini Lebih Dalam. Mengapa Bank-Bank Kita Masih Memilih Mendanai Sektor Batu Bara?

Bank-bank domestik di Indonesia mulai mengisi kekosongan pembiayaan yang ditinggalkan oleh lembaga keuangan internasional yang mulai menarik diri dari sektor batu bara. Secara global, Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menyebutkan bahwa lebih dari 100 lembaga keuangan telah menarik investasi mereka dari proyek-proyek batu bara. Sebuah studi terbaru dari CERAH juga menemukan bahwa meskipun banyak bank di Indonesia menyadari urgensi krisis iklim, masih terdapat kesenjangan yang jelas antara kesadaran dan tindakan konkret. Keputusan terkait pembiayaan berkelanjutan atau ESG masih didorong oleh kepatuhan yang dipandu oleh peraturan pemerintah daripada mengambil inisiatif internal. Di saat yang sama, bank-bank memiliki alasan yang kuat untuk mengambil pendekatan pragmatis terhadap pembiayaan batu bara. Akibatnya, energi terbarukan masih dipandang sebagai sekadar pelengkap, bukan sumber energi utama, dan pengembangannya tetap terbatas di Indonesia.
“Singkatnya, sektor perbankan Indonesia memiliki potensi untuk mendorong transisi ke energi terbarukan. Namun, tanpa arahan regulasi yang jelas dan insentif pasar yang memadai, potensi ini masih tertahan dan menunggu sinyal untuk bergerak.”
Hal ini dapat dimengerti bahwa transisi dari batu bara tidak akan terjadi dalam semalam. Setiap pergeseran investasi, setiap perubahan kebijakan, dan setiap langkah akuntabilitas memainkan peran penting dalam mempercepat langkah menuju masa depan yang bersih dan berkelanjutan. Perbankan Indonesia memiliki pilihan: apakah akan tetap nyaman, berdiam di bawah naungan sistem ekonomi lama atau turut mewarnai langit biru baru yang didorong oleh energi bersih dan keberanian bersama. Warna-warnanya sudah ada di sana, dan yang kita butuhkan hanyalah kemauan untuk menghidupkannya kembali.
“In a place that makes you change, fall in love again and again”
Seperti yang dikatakan Charli XCX dalam lagunya “Everything is romantic”, mari kita jatuh cinta lagi dan lagi dan kali ini jatuh cinta kepada bumi kita. Mungkin terdengar klise, tapi kita hanya punya satu planet yang bisa kita sebut sebagai rumah dan pemandangan romantis ini tidak akan berakhir ketika kita bisa bernapas lega dan merasa bahagia. Jadi, mari kita manfaatkan sebaik-baiknya dan melindungi planet ini.
Jika kamu ingin mengetahui lebih lanjut tentang keterlibatan bank-bank dan industri batu bara, kamu bisa mengeksplorasinya di sini.
Share Article:







